Minggu, 18 Oktober 2009

PEMBERITAHUAN PENGURUS NU RANTING PONDOKCINA

DIBERITAHUAN KEPADA SELURUH PENGURUS  NAHDLATUL ULAMA RANTING PONDOKCINA BAHWA KEGIATAN PERTEMUAN RUTIN MINGGUAN SUDAH DILAKSANAKAN PADA HARI MINGGU TANGGAL 18 OKTOBER 2009 DAN DIHARAPKAN SETIAP MINGGU PENGURUS  DAPAT HADIR. ATAS PERHATIANNYA KAMI UCAPKAN TERIMA KASIH

Senin, 12 Oktober 2009

KETUA RANTING NAHDLATUL ULAMA PONDOKCINA


SAMBUTAN KETUA RANTING NAHDLATUL ULAMA PONDOKCINA SEDANG MEMBERIKAN SAMBUTAN DALAM RANGKA PEMBUKAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI BINA ANAK MUSLIM AL-KHAIRATUL ISLAM

foto kegiatan



Minggu, 11 Oktober 2009

UNDANGAN PERTEMUAN PENGURUS NU RANTING PONDOKCINA

UNDANGAN
DIBERITAHUKAN KEPADA SELURUH PENGURUS RANTING NAHDLATUL ULAMA PONDOKCINA UNTUK HADIR DALAM RANGKA PERTEMUAN MINGGUAN YG INSYA ALLAH AKAN DIADAKAN PADA :
HARI / TGL :MINGGU/ 18 OKTOBER 09
JAM : 20.00 WIB SAMPAI SELESAI
TEMPAT : MASJID AL-KHAIRATUK\L ISLAM
JL.H.MAHALI PONDOKCINA DEPOK

PENGURUS

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA


Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

Jumat, 02 Oktober 2009

ASMAUL HUSNA

Nama-Nama Allah yang Terbaik
  1. Ar-Rahmaanu        = Maha Pengasih
  2. Ar-Rahiimu            = Maha Penyayang
  3. Al-Maliku              = Maha Merajai
  4. Al-Qudduusu         = Maha Suci
  5. As-Salaamu           = Maha Menyelamatkan
  6. Al-Mu'minu            = Maha Pemelihara Keamanan
  7. Al-Muhayminu       = Maha Penjaga
  8. Al-Aziizu                = Maha Mulia
  9. Al-Jabbaaru           = Maha Perkasa
  10. Al-Mutakabbiru     = Maha Megah
  11. Al-Khaaliqu           = Maha Pencipta
  12. Al-Baari'u              = Maha Melepaskan
  13. Al-Mushawwiru     = Maha Pembentuk
  14. Al-Ghaffaaru          = Maha Pengampun
  15. Al-Qahhaaru          = Maha Pemaksa
  16. Al-Wahhabu          = Maha Pemberani
  17. Ar-Razzaaqu          = Maha Pemberi Rezeki
  18. Al-Fattaahu            = Maha Membukakan
  19. Al-Aliimu               = Maha Mengetahui
  20. Al-Qaabidhu          = Maha Mencabut
  21. Al-Baasithu            = Maha Meluaskan
  22. Al-Khaafidhu         = Maha Menjatuhkan
  23. Ar-Raafi'u              = Maha Mengangkat
  24. Al-Mu'izzu             = Maha Pemberi Kemulian
  25. Al-Mudzillu            = Maha Pemberi Kehinaan
  26. As-Samii'u             = Maha Mendengar
  27. Al-Bashiiru             = Maha Melihat
  28. Al-Hakamu            = Maha Menetapkan Hukum
  29. Al-Adlu                 = Maha Adil
  30. Al-Lathiifu             = Maha Lemah Lembut
  31. Al-Khabiiru           = Maha Waspada
  32. Al-Haliimu             = Maha Penyantun
  33. Al-Azhiimu            = Maha Agung
  34. Al-Ghafuuru          = Maha Pengampun
  35. Asy-Syakuuru       = Maha Menghargai
  36. Al-Aliyyu              = Maha Tinggi
  37. Al-Kabiiru            = Maha Besar
  38. Al-Hafiizhu           = Maha Memelihara
  39. Al-Muqiitu            = Maha Pemberi Kecukupan
  40. Al-Hasiibu            = Msaha Menghitung/Penjain
  41. Al-Jaliilu               = Maha Luhur
  42. Al-Kariimu           = Maha Pemurah
  43. Ar-Raqiibu           = Maha Peneliti
  44. Al-Mujiibu            = Maha Mengabulkan
  45. Al-Waasi'u           = Maha Luas
  46. Al-Hakiimu          = Maha Bijaksana
  47. Al-Waduudu        = Maha Mengashi/ Menyayangi
  48. Al-Majiidu           = Maha Mulia
  49. Al-Baa'itsu           = Maha Membangkitkan
  50. Asy-Syahiidu       = Maha Menyaksikan/Mengetahui
Kelanjutannya  Nanti disambung lagi

Kamis, 01 Oktober 2009

MATA AIR ZAM-ZAM

 
 
 


Air Zamzam berasal dari mata air Zamzam yang terletak di bawah tanah, sekitar 20 meter di sebelah Tenggara Ka'bah. Mata air atau Sumur ini mengeluarkan Air Zamzam tanpa henti. Diamanatkan agar sewaktu minum air Zamzam harus dengan tertib dan membaca niat. Setelah minum air Zamzam kita menghadap Ka'bah.




Sumur Zamzam mempunyai riwayat yang tersendiri. Sejarahnya tidak dapat dipisahkan dengan isteri Nabi Ibrahim AS, yaitu Siti Hajar dan putranya Ismail AS. Sewaktu Ismail dan Ibunya hanya berdua dan kehabisan air untuk minum, maka Siti Hajar pergi ke Bukit Safa dan Bukit Marwah sebanyak 7 kali.Namun tidak berhasil menemukan air setetespun karena tempat ini hanya merupakan lembah pasir dan bukit-bukit yang tandus dan tidak ada air dan belum didiami manusia selain Siti Hajar dan Ismail.Penjelasan tentang sejarah ini adalah sbb :

Saat Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar dan Ismail tiba di Makkah, mereka berhenti di bawah sebatang pohon yang kering. Tidak berapa lama kemudian Nabi Ibrahim AS meninggalkan mereka.
Siti Hajar memperhatikan sikap suaminya yang mengherankan itu lalu bertanya ;" Hendak kemanakah engkau Ibrahim ?"
"Sampai hatikah engkau meninggalkan kami berdua ditempat yang sunyi dan tandus ini ? ".
Pertanyaan itu berulang kali, tetapi Nabi Ibrahim tidak menjawab sepatah kata pun.
Siti Hajar bertanya lagi;
"Apakah ini memang perintah dari Allah ?"
Barulah Nabi Ibrahim menjawab, "ya".
Mendengar jawaban suaminya yang singkat itu, Siti Hajar gembira dan hatinya tenteram. Ia percaya hidupnya tentu terjamin walaupun di tempat yang sunyi, tidak ada manusia dan tidak ada segala kemudahan. Sedangkan waktu itu, Nabi Ismail masih menyusu.
Selang beberapa hari, air yang dari Nabi Ibrahim habis. Siti Hajar berusaha mencari air di sekeliling sampai mendaki Bukit Safa dan Marwah berulang kali sehingga kali ketujuh (terakhir ) ketika sampai di Marwah, tiba-tiba terdengar oleh Siti Hajar suara yang mengejutkan, lalu ia menuju ke arah suara itu. Alangkah terkejutnya, bahwa suara itu ialah suara air memancar dari dalam tanah dengan derasnya. Air itu adalah air Zamzam.
Air Zamzam yang merupakan berkah dari Allah SWT, mempunyai keistimewaan dan keberkatan dengan izin Allah SWT, yang bisa menyembuhkan penyakit, menghilangkan dahaga serta mengenyangkan perut yang lapar. Keistimewaan dan keberkatan itu disebutkan pada hadits Nabi , " Dari Ibnu Abbas r.a., Rasulullah s.a.w bersabda: "sebaik-baik air di muka bumi ialah air Zamzam. Air Zamzam merupakan makanan yang mengenyangkan dan penawar bagi penyakit ".

Lencana Facebook

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
MUHAMAD HAMIM PUTRA ASLI PONDOKCINA KOTA DEPOK DILAHIRKAN PADA TAGGAL 10-AGUSTUS 1961 ANAK KE 7 DARI SEPULUH BERSAUDARA DARI PASANGAN HAMIM (ALMARHUM )DENGAN HJ.NAWIYAH BINTI H.MAWIH. BERISTRIKAN RITA TATIANA PUTRI ASLI PONDOKCINA KOTA DEPOK ANAK KE 7 DARI H.IBRAHIM ( ALMARHUM )DENGAN HJ.NASIAH .DIKARUNIA 2 PUTRA JAYA MUHRIATNA YANG SEDANG MENYELESAIKAN KULIAHNYA DI UNIVERSITAS GUNADARMA DAN TAUFIK HIDAYAT KULIAH DI UNIVERSITAS INDONESIA